Tradisi Ketuk Pintu Semarang, Simbol Harmoni Antarumat Beragama

Semarang, Jawa Tengah, menjadi saksi bisu keragaman budaya dan tradisi yang hidup dan berkembang secara harmonis. Salah satu contoh yang paling menonjol adalah tradisi Ketuk Pintu yang digelar dalam menyambut perayaan Imlek. Tradisi ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antarwarga, tetapi juga menjadi simbol kerukunan antarumat beragama.

Pada hari Sabtu, 21 Januari 2023, Klenteng Besar Tay Kak Sie, yang terletak di jantung kota Semarang, menjadi pusat perhatian dalam perayaan Imlek. Ribuan umat Konghucu dan masyarakat sekitar berkumpul untuk mengikuti prosesi syukuran dan tradisi Ketuk Pintu. Mereka mengenakan busana kebaya yang indah dan warna-warni, menambah kesan meriah pada perayaan tersebut.

Tradisi Ketuk Pintu sendiri merupakan bagian dari prosesi syukuran yang dilakukan oleh umat Konghucu dalam menyambut Imlek. Mereka melakukan ritual dengan mengetuk pintu klenteng sebagai simbol memohon restu dan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini juga menjadi ajang untuk memohon ampunan dan memperbarui komitmen untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Menurut Ketua Klenteng Besar Tay Kak Sie, tradisi Ketuk Pintu telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Semarang selama ratusan tahun. “Tradisi ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antarwarga, tetapi juga menjadi simbol kerukunan antarumat beragama,” katanya. “Kami berharap tradisi ini dapat terus dilestarikan dan menjadi contoh bagi masyarakat lainnya dalam menjaga kerukunan dan harmoni antarumat beragama.”

Dalam perayaan Imlek kali ini, Klenteng Besar Tay Kak Sie juga menggelar berbagai acara, seperti pertunjukan seni, pameran kerajinan, dan bazar kuliner. Acara-acara tersebut menjadi daya tarik bagi masyarakat sekitar dan wisatawan yang ingin merasakan keindahan dan keragaman budaya Semarang.

Pemerintah Kota Semarang juga turut mendukung pelaksanaan tradisi Ketuk Pintu dengan menyediakan fasilitas dan dukungan logistik. “Kami sangat mendukung pelaksanaan tradisi ini karena merupakan bagian dari kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Semarang,” kata Walikota Semarang, Hendrar Prihadi. “Kami berharap tradisi ini dapat terus dilestarikan dan menjadi contoh bagi masyarakat lainnya dalam menjaga kerukunan dan harmoni antarumat beragama.”

Dalam menyambut Imlek, masyarakat Semarang juga melakukan berbagai kegiatan sosial, seperti mengunjungi panti asuhan, rumah sakit, dan tempat-tempat lainnya untuk berbagi kasih dan kebahagiaan. Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi contoh nyata dari nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh ajaran Konghucu, seperti kebajikan, keadilan, dan kasih sayang.

Dengan demikian, tradisi Ketuk Pintu di Semarang menjadi simbol harmoni antarumat beragama yang sangat berharga. Tradisi ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antarwarga, tetapi juga menjadi contoh bagi masyarakat lainnya dalam menjaga kerukunan dan harmoni antarumat beragama. Semoga tradisi ini dapat terus dilestarikan dan menjadi bagian dari kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Semarang.